SEMARANG – Suasana hangat nan khidmat menyelimuti keluarga besar Pengadilan Agama (PA) Semarang pada hari ini, Rabu, 8 April 2026. Dalam balutan semangat bulan Syawal, segenap pimpinan, hakim, aparatur sipil negara, hingga seluruh jajaran pegawai berkumpul bersama di Aula Pengadilan Agama Semarang merayakan momen kembali kepada kesucian dalam acara Silaturahmi dan Halal Bihalal. Lebih dari sekadar tradisi tahunan, majelis ini menjadi oase spiritual untuk saling melebur khilaf dan merajut kembali ikatan persaudaraan (ukhuwah Islamiyah).

Kehangatan majelis ini semakin terasa sempurna dan syahdu dengan hadirnya para purnawan dan purnawati, sosok-sosok sepuh berjasa yang pernah mendedikasikan usia, tenaga, dan ilmunya di Pengadilan Agama Semarang. Kehadiran beliau-beliau tidak hanya menyambung tali silaturahmi lintas generasi, tetapi juga menjadi oase keteladanan yang mengingatkan bahwa estafet pengabdian dan persaudaraan sejati tak pernah lekang terputus oleh waktu purnatugas.

Acara diawali dengan penuh ketawadukan melalui untaian kata pembuka dari Panitera Pengadilan Agama Semarang. Berdiri mewakili seluruh jajaran pegawai, beliau menyampaikan permohonan maaf yang tulus dan sedalam-dalamnya kepada unsur pimpinan dan para sesepuh yang hadir. Dalam pesan yang disampaikannya, tersirat kesadaran bahwa dalam dinamika pekerjaan dan pelayanan sehari-hari, tak jarang terselip alfa dan prasangka. Permohonan maaf ini menjadi simbol keikhlasan, sebuah langkah awal yang elegan untuk menanggalkan ego demi menciptakan lingkungan kerja yang harmonis, sinergis, dan senantiasa diridai Allah SWT.

Menyambut ketulusan tersebut, Ketua Pengadilan Agama Semarang memberikan sambutan yang menyejukkan hati. Beliau menitikberatkan pada esensi terdalam dari kata “maaf”, yakni kerelaan untuk melepaskan segala bentuk dendam yang mungkin masih mengerak di dalam dada.

“Mari kita bersihkan hati, jadikan momen ini sebagai lembaran baru yang putih bersih. Hilangkan dendam dan teruslah jaga hubungan baik dengan siapapun, karena kedamaian sejati hanya bisa diraih ketika kita mampu memaafkan,” pesan beliau.

Nasihat ini menjadi pengingat yang indah bahwa tegaknya keadilan di ruang sidang harus bermula dari kejernihan hati para aparaturnya dalam menjaga habluminannas (hubungan baik antar sesama manusia).

Puncak siraman rohani dalam acara ini hadir melalui tausiyah yang dibawakan langsung oleh Wakil Ketua Pengadilan Agama Semarang. Dengan bahasa yang menyentuh jiwa, beliau mengajak hadirin menelusuri hikmah dari kisah agung Nabi Yusuf AS. Beliau mengisahkan bagaimana Nabi Yusuf lebih memilih dinginnya jeruji besi penjara ketimbang menuruti godaan hawa nafsu dan kemaksiatan yang menjanjikan kenikmatan sesaat.

Kisah ini diangkat bukan tanpa alasan, melainkan sebagai manifestasi puncak dari sebuah integritas dan ketakwaan. Bagi keluarga besar pengadilan, keteladanan Nabi Yusuf menjadi cermin yang sangat relevan; sebuah pesan mendalam agar setiap abdi negara senantiasa teguh memegang prinsip, berani menolak godaan duniawi yang menyimpang, dan rela bersusah payah demi mempertahankan kebenaran serta ketaatan kepada Sang Mahapencipta.

Rangkaian acara yang sarat makna ini ditutup dengan doa bersama yang khusyuk, dilanjutkan dengan tradisi saling bersalaman (musafahah). Senyum tulus, pelukan hangat, takzim kaum muda kepada para purnawan, dan sapaan akrab yang membaur tanpa sekat jabatan menjadi saksi bahwa keluarga besar Pengadilan Agama Semarang telah kembali pada fitrahnya. Kehangatan hari ini diharapkan menjadi energi baru untuk terus melangkah maju, memberikan pelayanan hukum yang berkeadilan, bermartabat, dan penuh keberkahan bagi masyarakat.